Kamis, 25 Oktober 2012

Makalah Keadilan Tuhan


PENDAHULUAN
A.Latar belakang
Para ulama Muslimin tidak sama pemahamannya terhadap IRADAH TUHAN (kemauan/kehendak Tuhan). Apakah kehendak Tuhan tersebut mutlak, tidak tunduk kepada norma-norma baik dan buruk, adil dan dzalim dan kebijaksanaan, ataukah tunduk kepada hal-hal itu semua.
Dengan perkataan lain, apakah perbuatan-perbuatan Tuhan dapat dipersamakan dengan perbuatan manusia?”
Aliran Asy’ariyyah mengatakan bahwa kehendak Tuhan mutlak, karena hanya Ia sendiri yang menguasai alam ini dan bisa berbuat sekehendakNya. Berhubung dengan itu , perbuatan-perbuatan Tuhan yang kelihatannya menyimpang dari ketentuan akal, tidak bisa dikatakan buruk atau dzalim, seperti memberi pahala orang yang jahat dan menyiksa orang baik/orang mi’min. dengan perkuatan lain, perbuatan Tuhan tidak bisa dipersamakan dengan manusia.
Aliran Mu’tazilah dan Maturidy sebaliknya mengatakan bahwa Perbuatan Tuhan dipersamakan dengan perbuatan manusia. Jadi ukuran baik dan buruk berlaku pada Tuhan. Dalam alam manusia kita mengetahui bahwa orang  yang berbuat atau orang yang menolong kejahatan adalah orang jahat. Karena itu kejahatan tidak mungkin ada pada perbuatan Tuhan, senagaimana yang dinyatakan Tuhan sendiri baca Ali imran 182 Anfal 51,Yunus 44 dan lain-lain)
Berhubung dengan hal-hal tersebut di atas, maka persoalan yang akan dibicarakan di sini ialah
1.      Kebijaksanaan Tuhan
2.      Baik dan buruk menurut pertimbangan akal, keburukan di dunia,qadla dan qadar.

Persoalan-persoalan tersebut telah dibicarakan oleh :
1.      Aliran Mu’tazilah,
2.      Aliran Asy’ariyyah
3.      Maturidy
PEMBAHASAN
Pengertian Keadilan Tuhan
A.    Mu’tazilah
Faham keadilan Tuhan banyak tergantung pada faham kebebasan manusia dan faham sebaliknya, yaitu kekuasaan Mutlak Tuhan.
Kaum Mu’tazilah  karena percaya pada kekuatan akal dan kemerdekaan serta keberadaan manusia, mempunyai tendensi untuk meninjau wujud ini dari sudut rasio dan kepentingan manusia. Memang dalam faham Mu’tazilah semua makhluk lainnya di Ciptakan Tuhan untuk kepentingan manusia. Mereka selanjutnya berpendapat bahwa manusia yang berakal sempurna, kalau berbuat sesuatu, mesti mempunyai tujuan. Manusia yang demikian berbuat atau untuk kepentingannya sendiri ataupun untuk kepentingan orang lain. Tuhan juga mempunyai tujuan dalam perbuatan-perbuatannya, tetapi karena Tuhan Maha Suci dari sifat berbuat untuk kepentingan diri sendiri, perbuatan-perbuatan Tuhan adalah untuk kepentingan maujud lain, selain Tuhan. Berlandaskan argument-argument ini kaum mu’tazilah berkenyakinan bahwa wujud ini diciptakan untuk manusia, sebagai makhluk tertinggi, dan oleh karena itu mereka mempunyai kecenderungan untuk melihat segala-galanya, dari sudut kepentingan manusia.
Berdasarkan atas tedensi mu’tazilah yang di jelaskan di atas soal keadilan mereka tinjau dari sudut pandangan manusia. Bagi mereka, sebagai di terangkan oleh Abdul Al-Jabar keadilan erat hubungannya dengan hak dan keadilan di artikan memberi seseorang akan haknya. Kata-kataTuhan Adil” mengandung arti bahwa segala perbuatnnya adalah baik. Bahwa ia tidak dapat berbuat yang buruk, dan bahwa ia tidak dapat mengabaikan kewajiban-kewajibannya terhadap manusia. Oleh karena itu Tuhan tidak dapat bersifat zalim dalam memberi hukuman, tidak dapat menghukum analorang musyrik lantaran dosa orang tuanya, tidak dapat meletakkan beban yang tak dapat dipikul manusia. Dan mesti memberi upah kepada ornag yang patuh padanya dan memberi hukuman kepada orang yang mennetang perintahnya. Selanjutnya keadilan juga mengandung arti berbuat menurut semestinya serta seusuai kepentingan manusia, dan memberi upah atau hukuman kepada manusia sejajar dengancorak perbuatnnaya.menurut al-nazam dan pemuka-pemuka mu’tazilah lainnya tidak dapat dikatan bahwa tuhan berdanya untuk sifat zalim, berdsta, dan untuk tidak berbuat apa yang terbaik bagi manusia .
Jelaslah kiranya, bahwa paham keadilan bagi kaum Mu’tazilah mengandung arti kewajiban-kewajiban yang harus di hormati Tuhan. Keadalian bukanalah hanya berarti memberi upah yang berbuat baik dan memberi hukuman kepada yang berbuat salah.Faham’’ Tuhan Berkewajiban Membuat Apa Yang Terbaik Bagi Manusia" saja mengandung arti yang luas sekali, seperti tidak meberi beban yang terlalu berat bagi manusia, pengiriman rasul dan nabi-nabi, memberi manusia  daya untuk melaksanakan keawajiban-kewajibannya dan sebagainya.Semua ini merupakan keawajiban-kewajiban Tuhan terhadap manusia.Keadilan menghendaki supaya Tuhan melaksanakan kewajiban-kewajibannya itu demikian kaum mu’tazilah.
B.     Asy’ariyah
Kaum asyariyah karena percaya kepada mutlaknya Kekuasaan Tuhan mempunyai tendensi yang sebaliknya.mereka menolak faham Mu’tazilah bahwa Tuhan mempunyai tujuan dalam perbuatan-perbuatannya. Bagi mereka perbuatan-perbuatan Tuhan tidak mempunyai tujuan, tujuan dalam arti sebab yang mendorong tuhan untuk berbuat sesuatu. Betul mereka akui bahwa perbuatan-perbuatan Tuhan menimbulkan kebaikan dan keuntungan bagi manusia dan bahwa Tuhan mengetahui kebaikan dan keuntungan itu, tetapi pengetahuan maupun kebaikan serta keuntungan-keuntungan itu, tidaklah menjadi pendorong bagi Tuhan untuk berbuat. Tuhan berbuat semata-mata karena kekuasaan dan kehendak mutlak-Nya dan bukan kepentingan manusia atau karena tujuan lain. Dengan demikian mereka mempunyai tedensi untuk meninjau wujud dari sudut Kekuasaan dan Kehendak Tuhan.
Kaum Asy’ariyah memberikan interpertasi yang berlainan sekali dengan interpretasi Mu’tazilah diatas. Sesuai dengan tedensi mereka untuk meninjau segala-segalanya dari sudut kekuasaan dan kehendak mutlak Tuhan, keadilan mereka artikanmenempatkan sesuatu pada tempat yang sebenarnya, yaitu mempunyai kekuasaan mutlak terhadap harta yang dimiliki serta mempergunakanya sesuai dengan kehendak dan pengetahuan pemilik. Dengan demikian keadilan Tuhan mengandung arti bahwa Tuhan mempunyai kekuasaan mutlak terhadap makhlukNya dan dapat berbuat sekehendak hati-Nya dalam kerajaan-Nya.ketidakadilan, sebaliknya berartimenempatkan sesuatu tidak pada tempatnya, yaitu berkuasa mutlak terhadap hak milik orang.
Oleh karena itu Tuhan dalam paham kaum Asy- Ariyyah berbuat apa saja yang dikendakinya, sungguh pun hal sedemikian itu, menurut padangan manusia adalah tidak adil. Asy-’Asyari sendiri berpendapat bahwa Tuhan tidaklah berbuat salah kalau memasukkan seluruh manusia kedalam surga dan tidaklah bersifat zalim jika ia memasukkan seluruh manusia ke dalam neraka. Perbuatan salah dan tidak adil adalah perbuatan yang melanggar hukum, dan karena di atas Tuhan tidak ada undang-undang atau hukum, perbuatan Tuhan tidak pernah bertentanagn dengan hukum. Dengan demikian Tuhan tidak bisa dikatakan bersifat tidak adil. Al-ghazali mengeluarkan pendapat yang sama. Ketidakadilan dapat timbul hanya jika seseorang melanggar hak orang lain jika seseorang harus berbuat sesuai dengan perintah dan kemudian melanggar perintah itu, perbuatan yang demikian tidak mungkin ada pada Tuhan.
Oleh karena itu Tuhan sebagai pemilik yang berkuasa mutlak, dapat berbuat  apa saja yang di kehendakinya dengan mahkluknya Al-Asyari memang berpendapat bahwa Tuhan dapat menyakiti anak-anak kecil di hari kiamat, dapat menjatuhkan hukuman bagi orang mukmin dan memasukkan orang kafir ke dalam surga. Sekiranya ini dilakukan Tuhan, Tuhan tidaklah berbuat salah. Tuhan tetap masih berbuat adil. Upah yang di berikan Tuhan hanyalah merupakan rahmat dan hukuman tetap merupakan keadilan tuhan. Tuhan tidak berkewajiban memberikan pahala. Sebagian kata al-ghazali Tuhan memberikan upah kepada manusia. Jika yang demikian yang dikendaki-Nya. Dan memberikan hukuman, jika itu pula yang dikehdaki-Nya. Sungguhpun demikian Tuhan tetap bersifat adil demikian pendapat kaum Asy’ariyah.
Jelaslah sudah kiranya bahwa paham Asy’ariyyah tentang keadilan bertentangan dengan paham yang di bawa kaum Mu’tazilah keadilan dalam paham Asyariyyah ialah keadilan raja absolute yang meberikan hukuman menurut kehedak mutlaknya, tidak terikat pada suatu kekuasaan, kecuali kekuasaannya sendiri. Keadilan paham Mu’tazilah adalah keadilan raja konstitusionil, yang kekuasaannya dibatasi oleh hukum, sungguhpun hukum itu adalah buatannya sendiri. Ia memberikan hukuman sesuai dengan hukum dan bukan semaunya.
C.    Maturidiyyah
Dalam hal ini, kaum Maturidiyyah golongan Bukhara mempunyai sikap yang sama dengan kaum asy’ariyyah. Menurut Al-Bazdawi tidak ada tujuan yang mendorong tuhan untuk menciptakan kosmos ini. Tuhan berbuat sekendak  hati-nya. Keadaan tuhan bersifat bijaksana tidaklah mengandung arti bahwa di sebalik perbuatan-perbuatan tuhan terdapat hikmah-hikmah. Dengan lain kata Al-Bazdawi berpendapat bahwa alam tidak diciptaka tuhan untuk kepentingan manusia.
Kaum Maturidiyyah kaum Samarkhan karena menganut paham free will dan free act serta adanya batasan bagi kekuasaan mutlak tuhan, dalam hal ini mempunyai posisi yang lebih dekat kepada kaum Mu’tazilah daripada kaum Asy’ariyyah. Tetapi tedensi golongan ini untuk meninjau wujud dari sudut kepentingan manusia lebih kecil dari tedensi kaum Mu’tazilah. Hal itu mungkin disebabkan oleh karena kekuatan yang di berikan golongan Samarkhan kepada akal serta batasan yang mereka berikan kepada kekauasaan mutlak tuhan, lebih kecil yang di berikan kaum Mu’tazilah.


KESIMPULAN
Paham keadilan bagi kaum Mu’tazilah mengandung arti kewajiban-kewajiban yang harus di hormati Tuhan. Keadilan bukanalah hanya berarti memberi upah yang berbuat baik dan memberi hukuman kepada yang berbuat salah, seperti tidak meberi beban yang terlalu berat bagi manusia, pengiriman rasul dan nabi-nabi, memberi manusia  daya untuk melaksanakan keawajiban-kewajibannya dan sebagainya. Semua ini merupakan keawajiban-kewajiban Tuhan terhadap manusia.
Sedangkan paham Asy’ariyyah tentang keadilan bertentangan dengan paham yang di bawa kaum Mu’tazilah, keadilan dalam paham Asy-ariyyah ialah keadilan raja absolute yang meberikan hukuman menurut kehedak mutlak-Nya,  tidak terikat pada suatu kekuasaan, kecuali kekuasaan-Nya sendiri. Keadilan paham mu’tazilah adalah keadilan raja konstitusionil, yang kekuasaannya dibatasi oleh hukum, sungguhpun hukum itu adalah buatannya sendiri. Ia memberikan hukuman sesuai dengan hukum dan bukan semau-Nya.
Kaum Maturidiyyah golongan Bukhara mengambil possisi yang lebih dekat dengan posisi Asy-Ariyyah dalam hubungan ini, sedangkan golongan Samarkhan mengambil posisi yang lebih dekat pada Mu’tazillah.